Sign up your free travel blog today!
Email: Password:
My Blog My Photos My Diary My Movies My Map Message Board
Buy DVD

Buy Gift Voucher

Terrell21Hendrix blog
No Photos 7th Dec 2017 - 7th Jan 2018
Hikmah: Memahami Lebih Dekat 3 Putra serta 4 Putri Rasulullah

Berdiskusi tentang anak dan putri Rasulullah SAW termasuk pembicaraan yang langka diangkat. Tidak pelik, sebagian umat Islam tidak memahami berapa jumlah anak dan putri beliau maupun siapa saja nama anak-anaknya.

Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,

“Ia suah beriman kepadaku padamasaitu orang-orang ateis kepadaku, ia sudah membenarkan saya tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku bersama hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tiada membantuku, dan Allah sudah menganugerahkan darinya kanak-kanak tatkala Allah tiada menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain,” (HR Ahmad no.24864)

Saat ia mengucapkan ayat ini, beliau belum menikah atas Maria al-Qibtiyah.

Imam an-Nawawi rahimahullah berceloteh, “Rasulullah memiliki tiga orang putra; yang pertama Qasim, namanya menjadi mengunyah Rasulullah (Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan wafat ketika berusia 2 tahun. Yang kedua Abdullah, dikenal juga ath-Thayyib maupun ath-Tahir karena lahir sesudah kenabian. Putra yang ketiga yaitu Ibrahim, dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat ketika berusia 17 atau 18 bulan.

Adapun putrinya berjumlah 4 orang; Zainab yang menikah oleh Abu al-Ash bin al-Rabi’, keponakan Rasulullah dari pias Khadijah, kemudian Fatimah menikah bersama Ali bin Abi Thalib, lalu Ruqayyah beserta Ummu Qultsum menikah dengan Utsman bin Affan.

Rinciannya merupakan sebagai seterusnya :

Putri-putri Rasulullah

Para ulama sepakat bahwa kuantitas putri Rasulullah tampak 4 orang, semuanya terlahir dari kandungan ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha.

Pertama, putri pertama Rasulullah yaitu Zainab binti Rasulullah.

Zainab radhiallahu ‘anha menikah dengan anak bibinya, Halah binti Khuwailid, yang berlabel Abu al-Ash bin al-Rabi’. Pernikahan ini aktif sebelum sang abah diangkat menjadi rasul. Zainab serta ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menadah Islam, akan tapi sang suami, Abu al-Ash, konsisten dalam agama jahiliyah. Hal ini membuat Zainab tidak ikut mengungsikan ke Madinah bersama aba dan saudari-saudarinya, lantaran ikatannya dengan sang suami.

Beberapa lelet kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah melindungi agamanya dan bertembung dengan si ayah terkasih, lalu menyusullah suaminya, Abu al-Ash. Abu al-Ash juga mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk agama mertua lalu istrinya. Keluarga kecil yang baik ini pun bersatu kembali dalam Islam beserta iman. Tidak lama kegembiraan tersebut aktif, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-Ash dan bikir mereka Umamah.

Setelah itu, adakala Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah SAW . Sebagaimana dalam perkataannabi disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, ketika shalat, apabila ia sujud, ia meletakkan Umamah dari gendongannya.

Kedua, Ruqayyah binti Rasulullah.

Ruqayyah radhiallahu ‘anha dinikahkan oleh Rasulullah atas sahabat yang terkemuka Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Keduanya turut bersama berhijrah ke Habasyah ketika musyrikin Mekah sudah sungguh keterlaluan dalam menganiaya dan mengiris orang-orang yang menganut. hamilplus.com/makam-nabi-muhammad/ , pasangan yang mulia ini dianugerahi satuorang putra yang dijuluki Abdullah.

Ruqayyah dan Utsman pun turut bersama dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Selagi tinggal di Madinah mereka dihadapkan oleh ujian wafatnya ananda tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun.

Tak lama setelahitu, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi. Utsman bin Affan setia mengurus istrinya dan senantiasa mengawasi keadaannya. Saat itu bersamaan atas terjadinya Perang Badar, berdasarkan permintaan Rasulullah buat mejaga putrinya, Utsman pun tak bisa turut serta dalam bentrokansenjata ini. Wafatlah ruqayyah bersamaan bersama kedatangan Zaid bin Haritsah yang melaporkan kemenangan umat Islam di Badar.

Ketiga, Ummu Kultsum binti Rasulullah. Sesudah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan Utsman atas putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Oleh karena itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) sebab menikahi dua cewek Rasulullah, sebuah idiosinkrasi yang tidak dipunyai sahabat lainnya.

Utsman dan Ummu Kultsum bersama-sama membangun rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya tak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dimakamkan berdekatan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu ‘anhuma.

Keempat, Fatimah binti Rasulullah.

Fatimah radhiallahu ‘anha merupakan putri bontot Rasulullah SAW . Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Pasangan ini dikaruniai putra pertama pada tahun ketiga hijriyah, serta anak tersebut dinamai Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dipanggil Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berantara lahirlah putri mereka Ummu Kultsum.

Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Jika Fatimah datang ke rumah si ayah, ibubapaknya selalu menyambutnya atas menciumnya dan bersimpuh bersamanya. Kecintaan Rasulullah pada Fatimah tergambar dalam cakap:

“Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa mengakibatkannya marah, maka dia pula telah membuatku berang,” (HR. Bukhari) Beliau pula bersabda:

“Sebaik-baik wanita penduduk adnan adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, bini Firaun,” (HR. Ahmad).

Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup saat beliau wafat merupakan Fatimah, kemudian dia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu ‘anha wafat enam bulan setelah sang ayah terkasih wafat meninggalkan dunia. Beliau wafat pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi’.

Putra-putra Rasulullah

Pertama, al-Qashim bin Rasulullah.

Rasulullah berkunyah bersama namanya, beliau disebut Abu al-Qashim (bapaknya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan wafat saat baya dua tahun.

Kedua, Abdullah bin Rasulullah.

Abdullah dinamai pula dengan ath-Thayyib ataupun ath-Thahir. Ia dilahirkan pada era kenabian.

Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah.

Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah SAW , dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha. Maria ialah seorang benduan yang diberikan Muqauqis, administrator Mesir, kepada Rasulullah. Terus Maria mengucapkan pengakuan dan dinikahi oleh Rasul SAW .

Usia Ibrahim tiada panjang, beliau wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih oleh kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Selagi Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,

“Sesungguhnya mata ini meneteskan air mata dan hati ini bersedih, tetapi kami enggak mengatakan benda yang tidak diridhai Rab abdi. Sesungguhnya abdi bersedih bersama kepergianmu wahai Ibrahim,” (HR. Bukhari).

Jika kita lihat perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, niscaya kita dapati pelajaran lalu hikmah yang banyak. Allah Ta’ala mengaruniakan beliau putra dan bikir yang merupakan ciri kesempurnaan ia sebagai manusia. Namun Allah pun mencoba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaiman lampau mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau menginginkan mereka; ayah, ibu, kakek, beserta pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah Rasul Muhammad SAW .

Allah juga tiada memperpanjang baya putra-putra beliau, salah satu hikmahnya merupakan agar beberapaorang tidak mengkultuskan putra-putranya alias mengangkatnya menjadi Rasul setelah dia. Bisa kamu lihat, cucu sira Hasan dan Husein saja pernah membuat sebagianorang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua cucu beliau melebih yang sepantasnya, bagaimana agaknya kalau putra-putra ia dipanjangkan usianya serta memiliki kemasukan? Tentu bakal menimbulkan cacian yang lebih besar.

Hikmah dari wafatnya ananda dan cewek Nabi SAW juga sebagai teladan bagi beberapaorang yang kehilangan salah satu darahdaging atau putri mereka. saat kelenyapan anaknya, Nabi SAW bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang enggak diridhai Allah. Ketika seorang kehilangan salah satu buahhatinya, maka Rasulullah pernah kehilangan dekat semua anaknya




1162 Words | This page has been read 46 timesView Printable Version